2. Kebangkitan Kontemporer yang Terfragmentasi

Dua dekade terakhir menandai kebangkitan ekonomi pesantren dalam bentuk yang lebih modern dan terukur. Pesantren Sidogiri dengan jaringan BMT UGT Sidogiri—memiliki aset sekitar Rp3,56 triliun dan 794 unit layanan—membuktikan bahwa pesantren mampu mengelola lembaga keuangan skala besar dengan legitimasi sosial tinggi. Pesantren Al-Ittifaq Ciwidey menembus rantai pasok ritel modern melalui agribisnis hortikultura, sementara Daarut Tauhid dan banyak pesantren lain mengembangkan unit usaha produktif lintas sektor.

Namun, capaian ini masih terfragmentasi dan parsial. Setiap pesantren tumbuh sendiri, tanpa konsolidasi yang cukup untuk menciptakan skala ekonomi, standardisasi, dan daya saing nasional. Di titik inilah ekonomi pesantren berada di persimpangan: bertransformasi menjadi kekuatan struktural, atau tetap terkungkung dalam skala lokal.