
Dugaan hoaks sejarah sejumlah pesantren hingga riuh sekira seratus kasus asusila yang melibatkan oknum pengasuh pesantren dalam beberapa tahun terakhir menjadi keprihatinan. Mirisnya lagi, sekira 90 persen justru terjadi di sejumlah pesantren yang terdaftar resmi di Kemenag. Disini dijelaskan penyebab serta rekomendasi dalam memilih pesantren menurut Santri Mengabdi.
KEBUMEN, CBC Indonesia – Maraknya kasus dugaan pencabulan dan kekerasan seksual yang melibatkan oknum pengasuh pesantren dalam beberapa tahun terakhir menjadi keprihatinan serius Gerakan Santri Mengabdi. Ketua Umum Santri Mengabdi, Gus Wahyu NH Aly, menilai fenomena tersebut tidak lagi dapat dipandang sebagai kasus yang berdiri sendiri, melainkan telah menjadi alarm serius bagi dunia pesantren.
Menurut Gus Wahyu, dalam beberapa tahun terakhir terdapat ratusan kasus yang muncul ke ruang publik. Mirisnya, sebagian besar kasus justru berasal dari pesantren yang terdaftar secara resmi di Kementerian Agama dan tidak sedikit yang merupakan pesantren berusia tua serta memiliki pengaruh besar di masyarakat.
“Ini harus menjadi bahan muhasabah bersama. Status terdaftar, nama besar, usia pesantren yang tua, maupun jumlah santri yang banyak tidak boleh dijadikan ukuran tunggal untuk menilai kualitas sebuah pesantren. Yang harus dilihat adalah kualitas ilmu, tata kelola, perlindungan santri, dan integritas pengasuhnya,” ujarnya, Kebumen, (18/06/26).
Faktor Asusila Pesantren

Cucu KH. Abdullah Siradj Aly ini menilai terdapat beberapa faktor yang perlu dikaji secara serius sebagai potensi akar persoalan maraknya kasus asusila di lingkungan pesantren. Faktor pertama adalah dimungkinkan lemahnya literasi fikih yang berkaitan dengan zina, kehormatan manusia, perlindungan santri, penyalahgunaan otoritas, dan tanggung jawab pendidik terhadap peserta didik.
Menurutnya, peristiwa ini bisa saja memperlihatkan banyak kyai atau pengasuh pesantren yang memiliki literasi yang lemah fiqh soal zina. Mengapa zina dalam Islam dikategorikan muamalah, masuk kejahatan, meskipun saling suka. Lalu dera dan rajam mengenai zina bukan masuk kategori hukuman, melainkan sebagai syarat taubat. Sehingga taubat soal zina tidak cukup sebatas melantunkan banyak istighfar.
Lalu banyak pesantren mengajarkan kewajiban santri untuk menghormati guru secara mendalam, tetapi tidak memberikan porsi yang sama terhadap pembahasan kewajiban guru untuk menjaga amanah, kehormatan, keselamatan, dan hak-hak murid.
“Ketika relasi guru dan murid hanya dibangun di atas kepatuhan tanpa diimbangi pemahaman tentang amanah dan tanggung jawab guru, maka ruang penyalahgunaan otoritas menjadi lebih besar,” katanya.
Faktor kedua adalah lemahnya literasi digital dan pengendalian diri dari pengasuh pesantren, di tengah derasnya arus teknologi informasi. Menurutnya, telepon genggam dan internet dapat menjadi sarana pengetahuan yang sehat, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk berbagai konten pornografi dan penyimpangan perilaku seorang pengasuh pesantren apabila tidak diimbangi literasi digital, dan kontrol diri yang kuat.
Selain itu, Faktor Ketiga, Gus Wahyu menyoroti budaya anti-kritik yang masih ditemukan di sebagian lingkungan pendidikan keagamaan. Menurutnya, salah satu ciri lembaga yang perlu diwaspadai adalah ketika kritik dianggap sebagai ancaman, pertanyaan dianggap sebagai pembangkangan, dan pembahasan kasus asusila dianggap tabu atas nama menjaga nama baik lembaga.
“Jika ada pesantren yang melarang pembahasan kasus asusila atau menolak evaluasi terhadap pengasuhnya, masyarakat perlu berhati-hati. Lembaga yang sehat tidak takut pada kebenaran. Justru keterbukaan adalah bagian dari mekanisme menjaga marwah pesantren,” ujarnya.
Gus Wahyu juga menegaskan bahwa sikap kritis sesungguhnya merupakan sumber akhlak dalam Islam dan pesantren. Menurutnya, sejarah pesantren dibangun oleh tradisi membaca, menulis, diskusi, musyawarah, dan keberanian para ulama menguji berbagai pendapat demi menemukan kebenaran.
“Pesantren tumbuh karena budaya ilmu. Budaya ilmu tidak pernah lahir dari ketakutan untuk bertanya. Para ulama membangun peradaban Islam melalui literasi, dialog, dan kritik yang beradab. Karena itu, kritis bukan lawan dari akhlak. Kritis justru sumber akhlak, sebab akhlak lahir dari kesadaran, sedangkan kesadaran lahir dari ilmu,” tegasnya.
Rekomendasi Memilih Pesantren
Terkait rekomendasi bagi masyarakat dalam memilih pesantren, Santri Mengabdi menilai pesantren yang layak dipertimbangkan adalah, Pertama, pesantren yang mendukung pengungkapan kasus asusila secara terbuka, tidak melindungi pelaku. Kedua, memiliki sistem perlindungan santri yang jelas, dan minim budaya doktrin “pengultusan”, termasuk adakah doktrin-doktrin hoaks apa tidak baik mengenai sejarah pesantren atau lainnya, serta menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas.
Selain itu lanjutnya, Ketiga, masyarakat juga perlu memperhatikan kualitas keilmuan pengasuh pesantren. Dijelaskan olehnya, pesantren yang baik biasanya dipimpin oleh orang yang cinta ilmu. Salah satu indikatornya adalah memiliki karya kitab, buku, tulisan, riset, atau kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Jika pesantrennya sudah lama, juga bisa melihat dari jumlah kualitas alumni-alumninya, budaya membaca, budaya menulis, keterbukaan terhadap kritik, dan tradisi diskusi ilmiah juga perlu menjadi pertimbangan.
“Paling utama kualitas pengasuh pesantrennya. Jika pengasuhnya ini memiliki banyak karya kitab atau buku, menunjukan literasi keagamaanya cukup baik. Sederhananya, hari-hari diisi untuk hal-hal yang produktif akan agama. Tapi jika tidak memiliki karya kitab, pikirannya jarang digunakan berfikir agama, hanya mengulang pengetahuan saja, apalagi puluhan tahun mengasuh pesantren kualitas keilmuannya begitu-gitu saja, ini sangat rentan hari-harinya terjebak pada hal-hal yang negatif seperti pornografi,” paparnya.
Menurut Gus Wahyu, ukuran utama pesantren bukanlah besar kecilnya bangunan, banyaknya santri, atau usia lembaga, melainkan sejauh mana nilai ilmu, akhlak, keterbukaan, perlindungan santri, dan tanggung jawab benar-benar hidup di dalamnya.
“Pesantren yang kuat bukan pesantren yang menutupi masalah, melainkan pesantren yang berani membersihkan dirinya dari penyimpangan. Menjaga nama baik pesantren bukan dengan membungkam kritik, tetapi dengan menegakkan kebenaran,” pungkasnya.
Download Novel Metamorfosis Cinta – Perlawanan Santri Terhadap Kyai – Versi PDF Bisa Mengklik: Download
Download Juga Buku Hoaks PP. Alkahfi Somalangu: Download

CBC News | Civic Broadcasting Channel
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









