
CBC News – Pencopotan mendadak jenderal berpangkat tertinggi di Tiongkok mengguncang Tentara Pembebasan Rakyat (People’s Liberation Army/PLA) dan memicu ketidakpastian serius terhadap masa depan Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC). Langkah ini menjadi babak terbaru dari rangkaian pembersihan besar-besaran yang dilakukan Presiden Xi Jinping selama satu dekade terakhir.
Penyelidikan terhadap Zhang Youxia, Wakil Ketua CMC yang mengawasi sekitar dua juta personel PLA, secara drastis mengubah peta kekuasaan di tubuh militer Tiongkok. Dengan tersingkirnya Zhang, Xi kini nyaris menjadi satu-satunya figur sentral yang memegang kendali langsung atas institusi militer terbesar di dunia.
Meski alasan pasti di balik langkah keras tersebut tidak diketahui publik—mengingat proses internal Partai Komunis Tiongkok yang tertutup—keputusan ini memunculkan pertanyaan besar mengenai stabilitas militer, arah kebijakan pertahanan, serta implikasinya terhadap keamanan kawasan, terutama terkait isu Taiwan.
“Ini adalah momen Shakespearean dalam politik Tiongkok,” ujar Jonathan Czin, mantan analis senior CIA dan eks Direktur Urusan Tiongkok di Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat.
Penyelidikan Disiplin dan Penyusutan Komisi Militer

Pada 24 Januari, Kementerian Pertahanan Tiongkok secara resmi mengumumkan bahwa Zhang Youxia dan Liu Zhenli—jenderal senior sekaligus anggota CMC—tengah diselidiki atas dugaan “pelanggaran disiplin dan hukum”. Dampaknya signifikan: badan militer strategis yang semula beranggotakan tujuh orang kini menyusut drastis, menyisakan hanya dua anggota aktif, salah satunya adalah Xi Jinping sendiri.
Sehari berselang, Liberation Army Daily, media resmi angkatan bersenjata Tiongkok, memuat tajuk rencana keras yang menuding Zhang dan Liu terlibat praktik korupsi serta mengkhianati “kepercayaan dan harapan” Partai Komunis. Editorial tersebut menegaskan pesan utama rezim Xi: tidak ada satu pun pejabat, setinggi apa pun jabatannya, yang kebal hukum.
Sahabat Lama yang Disingkirkan
Kasus Zhang Youxia menjadi sorotan tersendiri karena kedekatan personalnya dengan Xi Jinping. Ayah Zhang dan ayah Xi pernah berjuang bersama dalam perang saudara yang mengantarkan Mao Zedong berkuasa pada 1949. Hubungan Zhang dan Xi pun telah terjalin sejak muda, dikenal sebagai sahabat sekaligus sekutu politik.
“Bersikap keras terhadap musuh adalah hal biasa. Tetapi tanpa belas kasihan terhadap kawan sendiri adalah pesan politik yang jauh lebih kuat,” kata Czin, kini peneliti kebijakan luar negeri di Brookings Institution. Menurutnya, penyelidikan ini menegaskan bahwa dalam kampanye antikorupsi Xi, “tidak ada zona aman”.
Ja Ian Chong, asisten profesor ilmu politik di National University of Singapore, menilai langkah tersebut semakin mengokohkan posisi Xi sebagai pemimpin yang nyaris tak tertandingi. “Semakin banyak keputusan strategis akan bergantung langsung pada preferensi dan penilaian pribadi Xi,” ujarnya.
Konsolidasi Kekuasaan di Tubuh Militer
Sejak naik ke tampuk kekuasaan pada 2012, Xi Jinping menggulirkan reformasi menyeluruh di tubuh PLA untuk membentuk militer modern dan profesional, dengan pemberantasan korupsi sebagai agenda utama. Ironisnya, Zhang Youxia justru termasuk figur yang sebelumnya dipercaya memimpin agenda reformasi tersebut.
Pada Oktober lalu, dalam pleno keempat Partai Komunis Tiongkok, sepuluh pejabat Komite Sentral dikeluarkan dari partai—sebagian besar berasal dari kalangan militer. Rentetan ini memperkuat kesan bahwa pembersihan di tubuh angkatan bersenjata masih jauh dari selesai.
Kevin Luo, asisten profesor di University of Minnesota Twin Cities yang mengkaji politik otoriter Tiongkok, menilai bahwa tuduhan korupsi kemungkinan bukan satu-satunya alasan. Ia melihat langkah ini sebagai bagian dari strategi Xi untuk semakin mengonsolidasikan kekuasaan.
“Perampingan rantai komando dan memastikan partai benar-benar ‘mengendalikan senjata’ adalah kunci. Ini tentang disiplin dan keseragaman arah,” ujar Luo.
Dampak terhadap Isu Taiwan
Terlepas dari motif politiknya, para pengamat sepakat bahwa militer Tiongkok kini berada dalam fase ketidakpastian internal. Shanshan Mei, ilmuwan politik dari lembaga riset RAND Corporation, menyebut langkah ini akan memicu efek berantai di seluruh struktur PLA.
“Ini jelas memukul moral pasukan,” katanya. Ia menilai guncangan pada struktur komando berpotensi menghambat ambisi Xi terkait Taiwan dalam waktu dekat.
“Setiap manuver militer besar bukanlah pilihan ideal ketika organisasi baru saja mengalami disrupsi besar,” tambah Mei.
Pandangan serupa disampaikan Drew Thompson, mantan spesialis Tiongkok di Pentagon. Dalam tulisannya, Thompson menyebut Zhang sebagai salah satu sedikit jenderal PLA yang memiliki pengalaman tempur langsung, setelah terlibat dalam Perang Vietnam. Pengalaman itu, menurutnya, membuat Zhang cenderung mendorong kehati-hatian terkait opsi militer terhadap Taiwan.
“Ia adalah figur yang mampu memberi penilaian paling objektif tentang kemampuan dan keterbatasan PLA, termasuk biaya kemanusiaan dari konflik bersenjata,” tulis Thompson.
Dengan demikian, pencopotan Zhang Youxia tak hanya menandai babak baru konsolidasi kekuasaan Xi Jinping, tetapi juga berpotensi menghilangkan salah satu suara paling moderat dan berpengalaman dalam pengambilan keputusan militer Tiongkok.
Sumber: CBC Canada | CBC News

CBC News | Civic Broadcasting Channel











