
CBC News – Pernyataan mantan petinggi AI Google, Tarifi yang menyebut gelar hukum dan kedokteran dilematis. Menurutnya gelar tersebut tak lagi menjamin masa depan karier, memicu perdebatan luas.
Tarifi menyampaikan pandangannya dalam wawancara internasional pada awal Februari 2026. Pernyataan tersebut kemudian dikutip berbagai media.
Menurut Tarifi, perkembangan kecerdasan buatan (AI) melaju begitu cepat hingga mampu mengambil alih banyak tugas profesional yang sebelumnya hanya bisa dilakukan manusia terlatih.
Riset hukum, analisis kontrak, telaah dokumen, hingga pembacaan data medis dan rekomendasi awal diagnosis kini bisa dilakukan sistem AI dalam waktu singkat. Dalam konteks ini, ia menilai gelar akademik saja tidak lagi cukup.
Tarifi menekankan bahwa dunia pendidikan tinggi masih menggunakan paradigma lama, gelar sebagai jaminan masa depan. Padahal, di era disrupsi teknologi, kemampuan adaptif, kreativitas, serta kolaborasi dengan AI menjadi faktor pembeda utama.

Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua Umum Santri Mengabdi menyampaikan pandangannya hari ini, Minggu 15 Februari 2026 di Kebumen, Jawa Tengah. Menurutnya, AI tidak boleh diposisikan sebagai ancaman yang harus dihindari. Justru sebaliknya, teknologi tersebut harus dipelajari dan dimanfaatkan sebagai alat untuk mendorong kemajuan.
“AI bukan sesuatu yang perlu ditakuti atau disangkal. Ia adalah instrumen. Jika dikuasai, ia menjadi alat kemajuan. Jika diabaikan, kita yang tertinggal,” ujarnya.
Gus Wahyu juga menyoroti pentingnya perubahan cara pandang di lingkungan pendidikan. Ia berharap para guru, dosen, dan ulama tidak bersikap defensif terhadap perkembangan teknologi.
“Saya berharap para pendidik, baik guru, dosen, maupun ulama, tidak alergi terhadap AI. Jangan menutup diri. Justru kita harus memahami, membimbing, dan mengarahkan penggunaannya agar tetap berada dalam koridor etika dan kemaslahatan,” tegasnya.
Menurutnya, tantangan terbesar bukanlah kecanggihan teknologi, melainkan kesiapan sumber daya manusia dalam menyikapinya. Integrasi antara nilai moral, kecerdasan spiritual, dan literasi digital dinilai menjadi fondasi penting agar AI tidak disalahgunakan.
Adaptasi Jadi Kunci
Perdebatan ini memperlihatkan dua penekanan yang saling melengkapi. Tarifi mengingatkan bahwa gelar tanpa adaptasi berisiko kehilangan relevansi.
Sementara Gus Wahyu menegaskan bahwa teknologi bukan musuh, melainkan alat yang harus dikuasai dengan tanggung jawab.
Di tengah percepatan revolusi digital, masa depan profesi tampaknya bukan lagi sekadar soal panjangnya pendidikan formal, melainkan seberapa cepat manusia mampu belajar, beradaptasi, dan mengarahkan teknologi untuk kebaikan bersama.

CBC News | Civic Broadcasting Channel
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.











