Oleh: M. Shoim Haris
(Peserta Program Doktor Ilmu Ekonomi, UNTAG Surabaya)

Target Besar di Tengah Realitas Struktural

Memasuki tahun 2026, Indonesia berada pada persimpangan penting antara ambisi besar dan realitas struktural yang belum sepenuhnya berubah. Pemerintah secara konsisten menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen per tahun sebagai landasan menuju visi Indonesia Emas 2045. Target ini bukan sekadar slogan politik, melainkan prasyarat matematis untuk mendorong lonjakan pendapatan per kapita dan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap).

Namun data mutakhir menunjukkan jarak yang masih lebar. Berdasarkan rilis BPS Triwulan III 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,04 persen (year-on-year). Dengan memperhitungkan proyeksi Triwulan IV dari Bank Indonesia, pertumbuhan sepanjang 2025 diperkirakan berada di kisaran 5,1–5,3 persen. Angka ini stabil, tetapi masih sekitar 2,5–3 poin persentase di bawah target 8 persen.

Berbagai studi Bank Dunia menunjukkan bahwa negara-negara yang berhasil keluar dari middle-income trap umumnya mampu mempertahankan pertumbuhan tinggi—sekitar 6–8 persen—selama belasan hingga dua dekade. Dengan laju pertumbuhan sekitar 5 persen, Indonesia berisiko mencapai status negara berpendapatan tinggi jauh setelah 2045. Di sinilah urgensi target 8 persen memperoleh justifikasi ekonomi, bukan sekadar retorika.

Perbandingan regional memperjelas tantangan. Vietnam, meski PDB-nya jauh lebih kecil, mampu kembali mencatat pertumbuhan 8 persen tahun 2025, didukung kebijakan industrial yang konsisten. Filipina juga bergerak di rentang 6 persen dengan basis manufaktur dan jasa yang semakin kuat. Indonesia, dengan skala ekonomi yang jauh lebih besar, justru bergerak lebih lambat dalam transformasi struktural.