
Akar Masalah: Efisiensi Investasi dan Produktivitas
Mengapa pertumbuhan Indonesia sulit menembus 6 persen secara berkelanjutan? Dua variabel struktural menjadi penentu utama.
Pertama, efisiensi investasi, yang tercermin dalam Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa ICOR Indonesia pada 2024 berada di kisaran 6,2–6,3—sedikit membaik dibanding tahun sebelumnya, tetapi masih tinggi secara historis. Selama satu dekade terakhir, ICOR Indonesia cenderung bertahan di rentang 6,0–6,5.
Sebagai perbandingan, berbagai estimasi regional menunjukkan ICOR negara-negara Asia berkembang lain berada di kisaran 4–5. Artinya, Indonesia membutuhkan investasi yang jauh lebih besar untuk menghasilkan tambahan output yang sama. Dengan ICOR setinggi ini, setiap tambahan investasi besar hanya menghasilkan peningkatan output yang relatif terbatas—sebuah inefisiensi yang menjadi beban serius bagi fiskal dan dunia usaha.
Kedua, produktivitas jangka panjang, yang tercermin dalam Total Factor Productivity (TFP). Analisis Bank Indonesia dan Bappenas menunjukkan bahwa kontribusi TFP terhadap pertumbuhan Indonesia pada periode 2020–2024 rata-rata hanya sekitar 1 persen per tahun, bahkan lebih rendah dibandingkan dekade sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada akumulasi modal dan tenaga kerja, bukan pada peningkatan efisiensi dan inovasi.

Simulasi perencanaan pembangunan menunjukkan bahwa untuk mencapai pertumbuhan mendekati 8 persen, kontribusi TFP perlu meningkat secara signifikan—mendekati tiga kali lipat dari level saat ini. Ini bukan tugas ringan dan tidak mungkin dicapai tanpa perubahan mendasar dalam tata kelola kebijakan dan institusi.

Advisory Center For Development (ADCENT)











