
Di sinilah inti persoalan kita: utang terasa berat bukan karena jumlahnya berlebihan, tetapi karena penerimaan pajak terlalu kecil. Masalah utamanya bukan utang, melainkan struktur ekonomi yang gagal menghasilkan kapasitas fiskal jangka panjang. Lalu, di mana jalan keluarnya?
Jawaban yang sering dikemukakan adalah industrialisasi. Namun yang dibutuhkan bukan industrialisasi kosmetik atau proyek mercusuar.
Indonesia memerlukan industrialisasi sebagai transformasi struktural: mengubah bijih nikel menjadi baterai dan kendaraan listrik, karet menjadi ban dan alat kesehatan, sawit menjadi oleokimia dan bioplastik. Proses inilah yang melahirkan manufaktur tangguh, menciptakan lapangan kerja bernilai tambah tinggi, memperluas kelas menengah produktif, dan pada akhirnya memperlebar basis pajak. Di titik inilah dilema demokrasi kita muncul.
Sejarah menunjukkan, hampir tidak ada negara yang berhasil melakukan industrialisasi mendalam dalam fase awal demokrasi liberal penuh. Korea Selatan dan Taiwan membangun industrinya di bawah negara yang kuat dengan kebijakan yang konsisten lintas dekade.

China bahkan menjadikan industrialisasi sebagai proyek nasional jangka panjang dengan disiplin politik tinggi. Mereka mendisiplinkan kelompok rente dan memaksa modal bekerja untuk tujuan nasional.

Advisory Center For Development (ADCENT)











